Setetes Embun Surga
aku yg lemah yg tiada kuasa
aku yg bodoh yg tiada mengetahui
dulu terasa mengalir angin firdaus
merasuk segala fondasi jiwa dan raga
ketika waktu itu datang
diri merasa hampa
satu-persatu pucuk daun berguguran
Inilah suratan takdirku
Berpisah dengan apa yang kurasa hangat
Terlepas dari apa yang kulihat indah
aku berjalan di antara puing reruntuhan
merusakan jaring laba-laba tertenun alami
kini ketika ijin-Mu telah menunjukkan kuasa
maka tumbuhlah pohon ini
hijaukanlah segala yang telah menjadi debu
aku merasa di persimpangan jalan
Antara memilih puing runtuh yang telah dibangun
atau setetes embun surga yang mengalir dari daun
kucoba menggapai tetes embun tersebut
Terasa nikmat ketika de javu
ketika aku terus menggapai tetes itu untuk kuminum
pohon hijau itu tumbuh menjulang ke atas
makin kuraih makin terjungkal dibuatnya aku
kini telah terlambat, pohon itu di langit
satu per satu aku telah dibuaikan fenomena fatamorgana
apakah aku mungkin meraihnya suatu hari nanti
Bila atas ijin-Mu lagi aku takkan bisa meminum semuanya
Kini harus kujalani suratan takdir yang ada



Comments